Apakah yang Menjadi Pertimbangan Brand dalam Memilih Buzzer?

Apakah yang Menjadi Pertimbangan Brand dalam Memilih Buzzer?

ONLINE MARKETING

Menjadi seorang buzzer memang terdengar mudah dan menyenangkan. Hanya dengan melakukan sedikit promosi saja kamu sudah bisa mendapatkan sejumlah uang. Pekerjaan yang dianggap gampang dan enteng ini membuat banyak orang berusaha menjadi buzzer Indonesia.

Namun sebenarnya menjadi buzzer itu tidak mudah lho. Ada upaya dan kerja keras di balik kesuksesan seorang buzzer meraup keuntungan. Mereka tidak serta-merta langsung terkenal dan menghasilkan banyak uang. Ada proses yang harus ditempuh sebelum mereka bisa mendapatkan kepercayaan para brand untuk memakai jasa mereka.

Para brand yang ingin mempromosikan produk dan jasanya tentu sangat selektif dalam menentukan buzzer yang akan mereka pakai. Berbagai pertimbangan dilakukan sebelum sebuah brand memilih seorang buzzer. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya ketidaksesuaian kerja buzzer dengan hasil yang diinginkan.

Yang pertama kali dilihat oleh brand dari calon buzzer yang ingin dipakai adalah jumlah followers yang dimilikinya. Semakin banyak followers-nya biasanya para brand semakin tertarik untuk menjadikannya sebagai media promosi mereka. Namun tentunya jumlah followers berbanding lurus dengan bayaran yang didapatkan buzzer. Semakin banyak followers-nya maka buzzer akan semakin banyak biaya yang diterimanya.

Bukan hanya jumlahnya, brand juga melihat tipe-tipe followers sang buzzer. Hal ini diperlukan untuk melihat apakah followers buzzer termasuk dalam target market dari produk atau jasa yang ingin dipromosikan. Jika tidak sesuai maka brand tidak akan memilih buzzer tersebut.

Semakin tersegmentasi followers biasanya akan semakin mudah mengajak followers untuk ikut membeli produk dan jasanya. Misalnya followers menyukai make-up dan tutorial berdandan, maka promosi produk lipstick akan sesuai untuk dilakukan. Kalau dilakukan promosi mengenai sepatu lari maka tidak akan berlangsung efektif.

Faktor kedua yang dilihat dari seorang buzzer adalah isi konten dari media sosialnya. Misalnya akun media sosial Instagram atau Twitter-nya. Para brand menginginkan konten media sosial yang menarik dan unik sehingga mampu membuat followers ingin turut membeli produk dan jasa tersebut.

Frekuensi posting juga menjadi alasan brand memilih seorang buzzer. Jika buzzer jarang posting maka followers akan kehilangan minat untuk mengikuti isi konten media sosialnya. Posting secara berkala akan menjaga eksistensi seorang buzzer sehingga banyak orang akan terus ingat kepadanya.

Hal yang tidak boleh terlupakan adalah kelengkapan informasi dan identitas buzzer, misalnya kontak yang bisa dihubungi bila suatu brand tertarik untuk melakukan endorsement kepada seorang buzzer. Informasi yang lengkap akan meninggalkan kesan bahwa buzzer tersebut dapat dipercaya dan mudah untuk berkomunikasi. Buzzer yang sulit dihubungi akan membuat brand merasa enggan untuk bekerjasama.

Seorang buzzer juga harus dapat mempertahankan keunikannya. Buzzer yang tidak pasaran akan mengundang perhatian banyak orang dan membuat orang selalu ingin tahu mengenainya. Dengan demikian produk dan jasa yang digunakan buzzer tersebut akan menjadi topik perbincangan hangat yang pada akhirnya akan mendorong orang untuk juga membelinya.

Itulah beberapa faktor yang mendorong sebuah brand memutuskan untuk memakai jasa seorang buzzer untuk melakukan promosi atas produk atau jasanya.